“Sebuah kesuksesan dapat dihasilkan di atas 99 persen kegagalan,” demikian kata-kata bijak Soichiro Honda, lelaki kelahiran Desa Komyo, Prefektur Shizuoka, Jepang, tahun 1906. Kata-kata bijak itu bukan datang begitu saja. Kata-kata tersebut datang dari sebuah proses refleksi diri yang panjang dari anak seorang pandai besi. Honda bukan terlahir dari keluarga mapan atau berpendidikan tinggi, tetapi Honda datang dari keluarga yang hidup dengan ekonomi yang pas-pasan.
Kondisi itu tak membuatnya mati angin dan kehilangan harapan. Baginya mimpi kecil atau mimpi besar sama saja karena kedua-duanya tidak perlu bayar. Kenapa tidak mimpi setinggi langit sekalian, begitu mungkin cetus Honda dalam batinnya.
Lulus pendidikan dasar di desanya, Honda memilih untuk menjadi mekanik mobil. Berbekal mimpi besar tersebut Honda berangkat ke Yushima, Tokyo. Sayang, harapannya untuk menjadi mekanik tak selalu seiring dengan kenyataan yang didapat di lapangan.
Di Bengkel Art milik Kashiwabara itu, lelaki berumur 16 tahun ini sebenarnya menaruh harapan besar. Namun, pekerjaan yang didapatnya dari pemilik bengkel hanyalah mengasuh anak dan membersihkan bengkel.
Sadar bahwa harapan tak boleh mati dari hatinya dan semangat tak boleh padam dari jiwanya, Honda pun memutuskan untuk belajar mesin mobil dari buku di perpustakaan. Selain itu, saat ada kesempatan membersihkan bengkel, Honda mengamati secara saksama setiap gerak mekanik dalam memperbaiki mobil atau merancang mobil. Upaya untuk terus memperkaya kemampuan intelektual itu terus dilakukannya.
Sampai suatu saat Bengkel Art kedatangan banyak konsumen. Saat itulah sejarah awal hidup Honda di industri otomotif ditulis. Pemilik bengkel meminta Honda muda ini untuk membantu para mekanik.
Pada kesempatan pertama kerja di bengkel, Honda diminta memperbaiki Ford Model T. Pekerjaan awal yang diberikan kepadanya bukan memperbaiki mobil tersebut, melainkan hanya membersihkan salju yang menutupi bagian bawah mesinnya. Meskipun sekadar membersihkan, baginya sudah lebih dari cukup. Selain pekerjaan itu menjadi pengalaman pertama, juga peluang untuk melihat mesin Ford Model T yang sesungguhnya.
Sukses demi sukses diraihnya dari sebuah proses belajar yang terus-menerus. Honda tak pernah berhenti untuk melakukan inovasi. Satu per satu produk di sektor hulu otomotif digarapnya sampai akhirnya ia menjadi produsen piston yang paling kuat di Jepang.
Sampai akhirnya tahun 1945 pabriknya hancur karena pecah perang. Pabrik piston Tokai Seiki yang didirikannya di Iwata hancur pada masa perang.
Bangun dan hancur. Bangun lagi dan hancur lagi terus saja terjadi. Namun, Honda tidak menyerah, sampai akhirnya industrinya mampu menghasilkan sebuah sepeda motor melalui proses yang panjang.
Tepatnya pada Oktober 1951, mereka mampu menciptakan motor Dream E dengan mesin empat langkah. Sejak itu Honda menjadi salah satu raksasa dunia di industri otomotif roda dua. Honda berhasil karena ia mampu mengikuti seleksi alam dengan baik.
Persis seperti kata Darwin, “Bukan yang terkuat yang akan bertahan, tetapi yang paling adaptiflah yang bisa melakukannya.”
dikutip dari http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/29/Otomotif/3415034.htm
yang lewat